Sabtu, 22 September 2012



Cubung Wulung 

                                                                                                           edohaput


Keduapuluhtujuh

Juragan Gogor sudah mengatur pertemuannya dengan Tumi. Semua telah dipersiapkan. Strategi yang diatur bersama Plencing dan Tobil telah membuat Tumi sangat memercayai. Malam segera akan tiba. Juragan Gogor sudah sangat siap untuk memperdaya Tumi. 
Angin yang bertiup kencang membuat daun dan ranting pepohonan saling bergesekan menimbul suara gemerisik. Malam akan terjadi hujan. Gerimis mulai turun. Awan pekat yang menggelayut di langit menyebabkan gelap jalanan menjadi pekat. Di bawah payung untuk menahan gerimis, diterangi sentolop yang dibawanya Tumi bergegas menuju rumah juragan Gogor. Tumi ingin segera sampai di rumah mewah juragan Gogor. Tumi ingin segera dipuji - puji oleh juragan Gogor yang telah memercayai dan menganggapnya sebagai orang yang pinter memilih perhiasan. Tumi sangat bangga dipercayai oleh orang yang sangat kaya dan sangat berpengaruh. Tumi merasa memperoleh kehormatan dengan adanya undangan dari juragan Gogor. Tidak setiap orang bisa gampang menemui juragan Gogor untuk berbincang. Kali ini justru dirinya yang diminta oleh juragan Gogor untuk datang. Tumi sangat berbangga hati. Sempat pula di benak Tumi curiga, mengapa dirinya diundang juragan Gogor malam - malam. Mengapa tidak siang hari. Kalau hanya akan diminta pendapatnya tentang perhiasan mengapa harus malam - malam. Tumi juga sudah banyak mendengar tentang juragan Gogor yang suka wanita. Juragan Gogor sangat keranjingan dengan wanita muda. Tumi juga sudah mendengar kalau juragan Gogor suka membeli perawan. Siapa perawan yang bersedia digauli juragan Gogor akan banyak duit. Dibelikan sawah. Bahkan dibuatkan rumah. Kecurigaannya terhadap juragan Gogor ditepisnya sendiri. Mungkin Juragan Gogor saat siang sangat sibuk, jadi mengundang dirinya malam hari. Masak iya dirinya disukai juragan Gogor. Tumi pernah juga mendengar perawan yang digauli juragan Gogor adalah perawan - perawan yang berasal dari tetangga desa yang jauh. Masak iya juragan Gogor tega akan memperdaya dirinya yang hanya tetangga rumah. 
Plencing dan Tobil yang baru saja kena dampratan juragan Gogor lantaran tidak berhasil mempengaruhi yu Jumprit agar mau menukar jimat dengan emas setengah kilogram, menyambut kedatangan Tumi dengan suka cita. Juragannya pasti tidak akan marah - marah lagi, karena walupun Plencing dan Tobil gagal dengan yu Jumprit tetapi berhasil menghadirkan Tumi yang sangat dirindukan juragannya. Bahkan Plencing dan Tobil akan mendapat hadiah kalau nanti juragannya memperoleh kepuasan.  Plencing dan Tobil tergopoh - gopoh membukakan pintu gerbang halaman rumah.  Plencing segera mengantarkan Tumi memasuki rumah. " Aku sampai disini saja. Kamu lewat tangga ini, juragan menunggumu di lantai dua." Plencing menunjuk tangga yang menghubungkan lantai bawah dengan lantai di atasnya. Tumi yang baru sekali ini memasuki rumah juragan Gogor terkagum - kagum. Rumah besar yang mewah untuk ukuran Tumi. Diujung tangga Tumi disambut sapaan juragan Gogor : " Sini Tum ! Sudah sejak tadi aku menunggumu." Tumi melihat sekeliling ruangan. Ada lemari besar, ada tempat tidur besar dan berkasur tebal, ada meja besar di atasnya tertata botol - botol minuman dan gelas - gelas bagus, tetapi tidak ada kursi. Hanya ada satu sofa besar yang diduduki juragan Gogor. Tumi berdiri termangu. " Ayo duduk Tum." Juragan Gogor minta Tumi Duduk. Duduk dimana pikir Tumi. Cuma ada satu tempat duduk yang sedang diduduki juragan Gogor. Juragan Gogor berdiri dan menarik tangan Tumi : " Duduk disini. " Tumi kikuk duduk bersanding dengan juragan Gogor. " Santai saja Tum. " Juragan Gogor merapatkan tubuhnya ke tubuh Tumi. Tumi mencium bau minyak wangi yang sangat sedap yang berasal dari baju juragan Gogor.  " Ini lho Tum yang aku mau mintakan pendapatmu. Kamu kan pinter milih - milih perhiasan. Liontin ini menurutmu bagus dak. Kamu tahu kan Tum, isteri keduaku itu selalu rewel. Kini minta dibelikan liontin tapi tidak mau diajak ke kota untuk milih. Sudah dua kali aku beli selalu tidak cocok." Juragan Gogor berbohong. Sambil memegang tangan Tumi juragan gogor memindahkan liontin ke tangan Tumi. Juragan Gogor merasakan hangat dan halus lumernya tangan Tumi. Juragan Gogor menelan ludah. Birahinya mulai merambati benaknya. Tumi memegangi liontin berbentuk mahkota bunga yang sedang mekar dan ditengah ada mata berlian yang berkerlip tertimpa cahaya lampu ruangan. " Gimana Tum .... bagus ....?" Juragan Gogor semakin merapatkan duduknya ke tubuh Tumi. Sampai - sampai Tumi bisa merasakan dengus napasnya juragan Gogor. Tumi yang terus terkagum - kagum dengan liontin yang sedang dipegangnya, tidak sadar duduknya juragan Gogor sudah menempel rapat dengan duduknya. " Saya belum pernah melihat liontin yang seperti ini juragan. Tetapi liontin ini sangat indah. Jika ada wanita tidak menyukai liontin ini berarti dia wanita yang bodoh, juragan " Tumi menjawab juragan Gogor sambil menoleh ke juragan Gogor. Ternyata wajah juragan Gogor sudah sangat dekat dengan wajahnya. Tumi yang sedari tadi hanya menunduk dan memperhatikan liontin, ketika menoleh, maksudnya mau menampakkan reaksinya kalau dirinya sangat mengagumi liontin ini, karena sudah sangat dekatnya dengan wajah juragan Gogor, maka hidung Tumi menyentuh pipi juragan Gogor. " Aduh ... maaf juragan. " Tumi tersipu. " Dak apa - apa Tum, aku malah senang, kok Tum. Bersinggungan dengan hidung perawan cantik ternyata enak, Tum.  " Juragan Gogor semakin berani mengungkap maksudnya. Juragan Gogor mengambil kalung dari tangan Tumi. Dan dengan cekatan memasangkan kalung berliontin di leher Tumi. Tumi kaget, dan tak sempat menolak. Saat melingkarkan kalung di leher Tumi ini juragan Gogor menyentuhkan hidungnya di pipi Tumi. Sekali lagi Tumi kaget, tetapi tidak sempat menghindar. belum sempat hilang dari kagetnya juragan Gogor Menarik tangannya dan membimbingnya berdiri di depan kaca lemari yang besar. Juragan Gogor berdiri rapat di belakang Tumi sambil memegangi pundak Tumi. " Gimana Tum .... betul liontin ini indah ?" Juragan Gogor tiba - tiba memeluk tubuh Tumi dari belakang. Tumi kaget lagi. Kekagetannya semakin membuatnya sadar kalau juragan Gogor pasti punya maksud akan memperdaya dirinya. Belum sempat Tumi menjawab pertanyaan juragan Gogor , Juragan Gogor mempererat pelukannya. " Kalung dan liontin ini buat kamu saja, Tum. Kelihatannya kamu sangat cocok dengan kalung ini. Kamu jadi tambah cantik saja. " Juragan Gogor tidak melepas pelukannya. Tumi melihat dirinya di kaca sedang dipeluk juragan Gogor dari belakang. Diam - diam Tumi mengagumi dirinya. Dengan liontin ini dirinya memang tambah cantik. Untuk ketiga kalinya Tumi sangat kaget ketika tiba - tiba juragan Gogor menempelkan bibirnya di lehernya. Tumi menjadi sangat paham, kalau juragan Gogor tadi bersandiwara. Pasti yang sebenarnya adalah ingin memperdayanya. 
Karena Tumi tidak berekasi menolak juragan Gogor semakin nekat. Tangannya dilingkarkan di dada Tumi, dan jari - jarinya berusaha mencoba membuka kancing kain di bagian dada Tumi. 
Pikiran Tumi melayang teringat Gudel. Gudel yang dicintainya. Gudel lelaki pertama yang pernah meremas dadanya. Gudel yang sangat disayangnya. Gudel yang telah diberinya dengan ikhlas keperawananya. Gudel bisa diharapkan segera menghamilinya dan dijeratnya agar menikahikanya. Tumi teringat Gudel yang sedang bermasalah dengan uang. Tiba - tiba muncul dibenak Tumi kalau dirinya pasrah diperdaya juragan Gogor, dirinya pasti akan mendapatkan uang dari juragan Gogor dengan mudah. Dengan demikian dirinya akan lebih bisa membantu Gudel segera lepas dari permasalahan uang.  Dan Gudel akan banyak berhutang budi pada dirinya. Cita - citanya dinikahi Gudel pasti segera akan terwujud. 
" Jangan juragan ... jangan ... !" Tumi berpura - pura menolak dan mencoba menepis - nepiskan tangan juragan Gogor yang membuka kancing baju di depan dadanya. Tumi berpura - puran meronta untuk lepas dari pelukan juragan Gogor. " Juragan ... jangan juragan ....!" Tumi mencoba terus meronta. Juraga Gogor yang melihat rona merah wajah Tumi di kaca dan nampak Tumi semakin kelihatan cantik saja, menjadi semakin kesetanan. " Tumi ... minta apa kumu Tumi... aku akan berikan .... " Bisik Juragan Gogor ditelinga Tumi sambil terus memeluk tubuh Tumi dari belakang. Dengan Tetap memeluk erat Tumi Juragan Gogor membuka lemari dan tangannya meraih tumpukan uang kertas. " Jika ini kurang. Kamu bisa ambil sendiri Tum. Ni ... Tum ambillah !" Juragan Gogor menjejal - jejalkan uang digenggamnya ke tangan Tumi. Tumi sempat melirik uang di tangan juragan Gogor. Banyak sekali, pikirnya. 
Hujan di luar rumah yang tadi hanya sempat jatuh gerimis telah tercurah menjadi hujan. Suara jatuhnya air di atas genting - genting rumah berbareng dengan suara gemerisiknya gesekan - gesekan dedauan yang diterpa angin menindih suara Tumi yang meminta juragan Gogor agar jangan melakukan yang diinginkan juragan Gogor. 
Tubuh tinggi besar juragan Gogor dan tangan kuat juragan Gogor segera memeluk kuat dan mengangkat Tubuh Tumi yang kecil bila dibandingkan  dengan tubuh dengan tubuhnya. Juragan Gogor membaringkan Tubuh Tumi diranjang sambil terus dipeluk dan tidak akan dilepaskan. Nafsu birahi juragan Gogor begitu meledak - ledak. Diranjang Tumi terus berpura - pura meronta. Uang digenggaman juragan Gogor tersebar di atas ranjang. Tumi sempat melirik lagi uang yang terserak di ranjang. Banyak sekali pikirnya. Semakin Tumi meronta juragan Gogor menjadi semakin kesetanan. Belum pernah juragan Gogor berhubungan dengan perawan yang meronta. Dengan perawan - perawan yang dibeli sebelumnya juragan Gogor selalu mendapatkan yang pasrah - pasrah saja. Dengan mudah dan tanpa perlawanan juragan Gogor melucuti kain yang dikenakan. Dan ketika juragan Gogor dengan nafsu birahinya memperdaya perawan - perawan sebelumnya, mereka hanya pasrah - pasrah saja. Karena memang tubuhnya sudah dibeli maka apa yang dibuat oleh yang membeli mereka manut - manut saja. Berbeda dengan yang kali ini. Juragan Gogor seolah mendapat perlawanan. Dengan adanya perlawanan dari Tumi, Juragan Gogor justru sangat merasa senang. Menambah nafsu birahinya menjadi begitu meledak - ledak dan kesetanan. Dalam pikiran juragan Gogor Tumi pasti bisa dikalahkan. Sebentar lagi pasti akan segera bisa dikuasai. Dengan dua kakinya Tumi tubuh Tumi dijepitnya. Tumi menjadi kesulitan meronta. Sementara itu tangan Juragan Gogor telah bisa membukan kain yang menutupi dada Tumi. Dada sudah terbuka tetapi payudara masih tertutup kutang. Karena merontanya Tumi semakin lemah lantaran kuatnya kedua kaki Juragan Gogor yang menjepit tubuh Tumi, maka dengan mudah pula juragan Gogor menyingkirkan kutan dari dada Tumi. Menyembulah dua gundugan daging putih dengan di puncaknya adan puting kecil berwarna merah jambu. Buah dada Tumi. Sekilas juragan Gogor memandangi buah dada Tumi yang bersih ada beberapa tahi lalat kecil berwarna merah menghisainya. Baru beberapa detik juragan Gogor memandangi buah dada Tumi sudah tidak tahan untuk segera menyerbunya. Serbuan juragan gogor ke buah dada Tumi sangat menggila. Digigit puting susu Tumi, disedot - sedot, dicipok - cipok dan terus diciumi dengan membabi buta. Tumi menjerit - njerit seperti tidak rela juragan Gogor memperlakukan buah dadanya seperti ini. Tetapi yang benar Tumi sangat menikmati serbuan ke payudaranya. Kumis juragan Gogor yang tebal sangat membuat payudara sangat geli. Belum lagi cara juragan Gogor menyedot - nyedot dan menggigit - gigit putingnya. Dengan telapak tangannya yang besar serta jari - jarinya yang panjang berganti ganti juragan Gogor menekam buah dada Tumi dan meremasnya. Setiap kali remasan lembut hingga remasan gemas dan kasar Tumi meronta dan menggeliat : " Jangan Juragan ...jangan.... sudah ... juragan ...!" Tumi terus meronta walaupun rontaannya kian melemah. Apa yang keluar dari mulut Tumi sangat bertolak belakang dengan apa yang dikatakan hatinya. Terus juragan ... terus...lumat dan remas juragan.....ah ....sangat nikmat ! Puas dengan payudara Tumi juragan Gogor mengarahkan mulutnya ke bibir Tumi yang terus banyak meringis dan terbuka - buka. Saat bibir membuka ini juragan Gogor langsung menerkamnya dengan ciuman dahsyatnya. Tampa ampun bibir Tumi dilumat sampai Tumi kesulitan bernapas. Dirasakan Tumi, bibir dan lidah juragan Gogor begitu hebat memperdayanya. Seluruh tubuh Tumi menjadi merinding nikmat. Ciuman juragan Gogor yang menyerbu dahsyat mempengaruhi milik Tumi yang ada di selangkangan. Ciuman itu membuat miliknya yang ada di selangkangan membasah. Tumi orgasme. Tangan juragan Gogor yang ada di selangkangan Tumi sudah berhasil merobek dan melepas celana dalam Tumi. Dengan sigap juragan Gogor juga memelorotkan kain bawah Tumi. Tumi telanjang. Juragan Gogor melepaskan cengkeramannya di tubuh Tumi dan membiarkannya tubuh telanjang Tumi tergolek di ranjang. Dengan cepat dan sigap juragan Gogor melucuti pakaian yang dikenanakan. Juragan Gogor telanjang. Tumi sempat melirik mentimun juragan Gogor yang besar besar panjang tegak mendongak. Tumi berpura - pura menangis. Satu tangannya berusaha menutupi buah dadanya dan tangan yang lain menutup miliknya. Napas juragan Gogor yang memburu ngos - ngosan terdengar sangat keras. Kembali juragan Gogor menerkam tubuh telanjang Tumi. Kali leher Tumi yang diserbu bibir juragan Gogor. Sementara tangan juragan Gogor berusaha mengangkangkan paha Tumi yang terus merapat. " Jangan .... jangan... juragan ... jangan.... jangan ..lakukan... !" Tumi terus merapatkan pahanya yang terus dibuka - buka oleh tangan kuat juragan Gogor. " jangan .. jangan ... jangan ... juragan... !" Sebaliknya apa yang ada di pikiran Tumi, cepat juragan kangkangkan pahaku. Cepat lakukan juragan aku sudah tidak tahan !
Juragan Gogor sekilas teringat perawan - perawan yang telah dibeli sebelumnya. Mereka begitu pasrah. Ketika sudah telanjang mereka telentang di ranjang dengan kaki kangkang siap untuk disetubuhi. Tumi lain. Tumi meronta. Tumi membuat nafsu birahinya berlebih. Perawan - perawan sebelumnya ketika buah dadanya diciumi, dihisap - hisapnya, hanya mendesah pelan dan tidak banyak menggelinjang dan menjerit - njerit seperti Tumi. 
Paha Tumi berhasil dikangkangkan oleh tangan juragan Gogor. Dan pada saat tangan juragan Gogor berusaha mengangkangkan paha Tumi, sempat pula tangan dan jari - jari mampir di milik Tumi yang sudah membasah. Paha Tumi yang terbuka kangkang segera ditempat pinggul juragan Gogor. Dan mentimun juragan Gogor sudah tak sabar. Dengan sekali gerakan merendah pinggul dan memajukan pantat mentimun juragan Gogor telah mendesak membuka bibir milik Tumi menekan dan amblas di milik Tumi. " Juragaaaaan ....!" Tumi menjerit. Tumi merasakan ada sesuatu yang besar, sangat kaku, hangat dan ujungnya menyodok - nyodok bagian yang paling dalam milikinya. Sambil terus berganti - ganti menyerbu bibir, leher dan payudara Tumi, juragan Gogor semakin lama semakin memacu maju mundurnya mentimunya. Hampir setiap lima menit Tumi sampai puncak. Ketika setiap kali Tumi sampai ke puncak ini membuat mentimun juragan Gogor seperti diremas - remas, disedot - sedot dan di pelintir - pelintir. Belum pernah juragan Gogor merasakan yang sepertini ini. Puluhan wanita telah dicobanya, tidak ada yang enaknya seperti milik Tumi. Juragan Gogor semakin menggila memacu mentimun. Tumi meronta - ronta. Kaki panjangnya kadang menendang - nendang, kadang melingkar dipinggul juragan Gogor dan pantatnya dinaik - naikkan. Mentimun juragan Gogor yang terus terasa disedot, diremas, dan dipelintir siap meledak. 
Dengan kuat juragan Gogor memeluk tubuh Tumi, mencipok buah dada Tumi dengan sedotan yang amat kuat, dan pantatnya menyodokan kuat mentimunnya di kedalaman milik Tumi. Juragan Gogor menggeram dan mengejang. Tum ........Tumi.....Tuuuuuuuum.....!" Tumi merasakan ada air bah berupa cairan lava  memenuhi kedalaman miliknya. Kehangatan dan keleler - keleler di dalam miliknya membuat milik Tumi geli luar biasa dan ahkirnya Tumi sampai ke puncak lagi untuk yang kesekian kalinya. Tumipun menjerit sambil menjambak rambut juragan Gogor : Juragaaaaann ..... !"

bersambung .......................




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar