Selasa, 19 Februari 2013

Cubung Wulung 

                                                                                                       edohaput 


Keenampuluhsatu

Sejak peristiwa malam itu yang dialaminya bersama Tumi, keinginan Kliwon untuk bisa dekat dengan wakini semakin menggebu. Tidak ada perawan lain yang ada di hati dan pikirannya selain wakini. Tetapi jiwa pengecut Kliwon menjadikannya tidak berani secara  terang - terangan menjumpai Wakini. Kliwon hanya berharap - harap bisa ketemu Wakini di jalan atau dimana saja. Dan dirinya akan memberanikan menyapa. Disela - sela kegiatannya yang sangat sibuk melayani tamu dan menolong orang, Kliwon terus menyoba mengintai kegiatan Wakini. Kliwon yang telah berubah keadaan dengan Kliwon yang dulu menyebabkan dirinya menjadi kurang leluasa. Kliwon yang telah berubah menjadi orang yang banyak dihormati karena kebisaannya menyembuh orang sakit, menjadi sulit bergiat layaknya perjaka desa yang lain. Kliwon menjadi tidak bisa sembarangan saja bergiat. Dirinya mesti hati - hati, karena banyak orang memperhatikannya. Jika kebetulan di rumah sepi tamu, Kliwon menyempatkan ke luar rumah dan pergi ke jalan. Dengan harapan bisa berpapasan dengan Wakini. Apa yang dipendamnya di dalam hati tidak ada orang yang tahu. Bahkan pak Pedut bapaknya saja yang setiap hari serumah juga tidak tahu. 
Sore cerah. Langit bersih dari mendung. Tidak ada kabut. Matahari yang telah miring ke barat menerangi gunung dan pepohonan. Celoteh anak - anak yang sedang bermain di halaman rumah - rumah mereka membuat sore menjadi tambah ceria. Kliwon yang sejak pagi hingga siang disibukkan oleh para tamu yang berobat, santai berdiri di depan rumah, mengamati jalanan. Harapannya Wakini lewat. Tiga batang rokok  telah habis diisapnya, dan telah membuat bibirnya panas, yang diharapkan tidak kunjung lewat. Dalam hati Kliwon menggerutu mengapa Wakini tidak lewat. Mengapa Wakini tidak keluar rumah menuju kedainya mbok Semi. Dimana Wakini ? 
Matahari telah rebah di balik bukit. Suasana menjadi petang. Kliwon kecewa. Wakini tiada kelihatan melalui jalan. Kliwon masuk ke rumah dan membawa hatinya yang masgul, kecewa, dan menggerutu. Kliwon masuk kamar dan membanting tubuhnya di amben. Pikirannya melayang ke Wakini. Wakini yang rambutnya di kepang. Wakini yang tubuhnya padat. Wakini yang berkulit bersih. Wakin yang tidak secantik Tumi dan Menik, tetapi nampak luwes dan manis. Wakini yang kalau tersenyum membuat jantung bergetar. Wakini yang kalau berjalan pantatnya sintalnya tampak bergetar - getar membuat di jangtungnya ada gempa. 
Aku harus berani menjumpainya. Aku harus mengatakan keininginanku. Aku tidak boleh hanya menunggu. Kalau hanya menunggu aku tidak akan mendapatkan Wakini ! Aku harus berani ! Dengan sigap Kliwon bangkit dari amben dan tekatnya akan segera ke luar rumah untuk menjumpai Wakini. 
Rembulan separo di langit menerangi jalannya Kliwon menuju rumah Wakini. Langkah Kliwon kadang - kadang terhenti, karena Kliwon ragu. Akankah Wakini mau menemuinya ? Tidakkah kedatangannya ini akan membuat Wakini kaget ? Atau justru nanti dirinya akan ditertawakan Wakini. Kliwon berhenti melangkah. Rasanya mau balik saja ke rumah. Tetapi bayangan senyum Wakini kembali mendesak - desak otaknya agar meneruskan langkah. Kenapa takut. Tidak ada yang harus ditakuti. Kliwon melanbgkah cepat agar pikirannya yang pengecut tidak lagi mengganggunya. 
Kliwon terkejut. Wakini ada di halaman rumah sedang memandangi rembulan. Kliwon menghentikan langkah dan cepat - cepat bersembunyi di balik batang pohon besar. Matanya mengawasi Wakini. Wakini nampak gelisah. Kadang wajahnya menengadah memandang rembulan, kadang celingukan kesana - kemari. Kliwon curiga. Jangan - jangan wakini sedang menunggu kedatangan perjaka pujaannya. Kliwon deg - degan. Terbersit rasa cemburu. Otaknya segera memerintahkan tubuhnya agar segera berlari meninggalkan tempat untuk menjauh dari Wakini. Betapa malunya dirinya kalau benar Wakini sedang menunggu pacar. Dirinya pasti ditolak mentah - mentah. Otaknya berpendapat demikian. Lain dengan dorongan perasaannya yang sangat ingin berhadapan dengan Wakini. Dan mulutnya akan segera mengatakan kalau dirinya suka sama Wakini.  Kliwon menunggu beberapa saat sambil mengamati Wakini. Wakini yang padat sintal. Rambutnya yang sebahu diurai. Dadanya begitu menonjol. Perutnya tipis. Matanya bulat, hidungnya tidak mancung tetapi tidak pesek, dan bibirnya mudah membuka karena murah senyum.  Ah ... kepalang tanggung apapun yang terjadi aku harus menjumpai Wakini. Yang terjadi biarlah terjadi. Kliwon keluar dari balik batang pohon besar dan melangkah mantap ke arah Wakini berdiri. Wakini yang mendengar suara langkah mendekatinya menoleh ke arah Kliwon yang sudah sangat dekat dengan dirinya. " Kang Kliwon ... ! Wakini berjingkrak. " Ini benar kang Kliwon ta kang ?" Wakini tiba - tiba menubruk dan memeluk tubuh Kliwon. Kliwon sangat kaget. " Kang ... aneh ... kang ... sejak tadi sore aku ini ada firasat kalau kang Kliwon mau datang menemui aku. Aneh ... kang ini menjadi kenyataan. Kang betul kang ... percayalah ... aku ini sedang menunggu kang Kliwon. Aneh banget kang ... aku senang sekali, firasatku jadi kenyataan. Kang ... kang Kliwon... aku senang sekali !" Wakini memeluk erat tubuh Kliwon sambil wajahnya ditengadahkan dan didekatkan ke wajah Kliwon yang sedang bingung. Kliwon membaui wangi melati dari rambut Wakini. Kliwon menghirup wanginya mawar yang berasal dari napas Wakini. Kliwon merasakan kenyal empuknya dada Wakini yang menempel erat di bawah dadanya. Beberapa saat kemudian mengalir perasaan bahagia memenuhi rongga dadanya. Kliwon tersadar dari kebingungannya dan segera memeluk erat tubuh Wakini. " Kang kenapa lama sekali kang Kliwon baru datang. Aku sangat mengharapkan kang. Aku tahu kalau kang Kliwon menyukai aku. Aku tahu kang Kliwon suka menyuri pandang ke aku.  Aku juga suka kang Kliwon, kang. Aku sudah sangat menunggu, kang." Kliwon tidak bisa berkata apa - apa. Perasaan hatinya yang tiba - tiba berbunga -  bunga membuat mulutnya bagai terkunci. Kliwon hanya bisa memandangi wajah cantik yang sangat dekat dengan wajahnya. " Kang Kliwon ..." Wakini lembut menyebut nama Kliwon. Dari sudut matanya yang bulat mengalir air matanya.  Membasahi pipi. Air mata yang berkilat - kilat memantulkan cahaya rembulan. Entah bagaimana bibir Kliwon segera menempel di bibir Wakini yang terbuka. Wakini dan Kliwon berciuman memadu kasih yang tiba - tiba tumbuh subur di hati mereka. Kliwon merasakan hangat dan wanginya bibir Wakini. Sebaliknya Wakini merasakan menggebunya bibir Kliwon yang melumat bibirnya. Mereka berpagut dan melupakan alam sekitar. Untung saja rumah Wakini yang berhalaman luas ini agak jauh dari tetangga. Sehingga kedua yang sedang menikmati indahnya cinta tidak ketahuan orang lain. Wakini yang baru sekali ini merasakan dicium mesra dan menggebu oleh perjaka, merasakan ciuman sebagai kenikmatan yang tiada tara. Apalagi yang mencium adalah perjaka yang memang dirindukannya. Ciuman Kliwon membuat tubuhnya merinding. Rasa hangat di bibir menjalar kemana - mana kebagian - bagian tubuhnya yang lain. Wakini menjadi merapat - rapatkan pahanya karena di miliknya serasa ada yang mau mengalir keluar dan dirasakan sungguh nikmat. Tubuhnya semakin dipepetkan ke tubuh Kliwon. Seluruh tubuh Kliwon gemetaran. Napasnya begitu memburu. Tubuh wakini yang menempel ketat di tubuhnya tak urung menekan mentimunnya yang kaku di dalam celananya. Kliwon hanya bisa mendengus - dengus dan semakin kuat saja memeluk tubuh Wakini ketika mentimunnya tidak bisa menahan muntahnya cairan lelakinya. Sejurus kemudian Kliwon tersadar dan merasa malu. Segera dilepaskannya Wakini dari pelukannya. Dan hanya tangan Wakini saja yang dipegangnya. " Ni ... aku ... aku ... pulang dulu. Besuk ketemu lagi." Kliwon tergagap. Berkata begitu Kliwon cepat - cepat meninggalkan Wakini yang pandangan matanya membututi sampai Kliwon hilang di telan rimbunnya tetumbuhan di tepi jalan. 

bersambung ..................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar