Sabtu, 11 Mei 2013

Cubung Wulung

                                                                                                 edohaput


Kedelapanpuluh

Gudel, pak Blengur dan beberapa perjaka desa menyusur kali. Perjalanan menyusur kali dimulai dari pinggir kuburan. Berjalan ke arah utara menuju hutan. Semakin jauh melangkah semakin sulit jalan ditempuh karena banyak terhalang semak gerumbul yang lebat tumbuh liar. Gudel menemukan tanda - tanda telapak kaki yang merusak rumput liar. " Kang Blengur bukankah rumput - rumput ini ambruk karena terinjak kaki ?" Gudel berhenti melangkah. Semua melihat rumputan yang tidak lagi pada posisi semestinya. Sangat jelas kalau rumputan itu terinjak - injak kaki oleh lebih dari dua orang. Mata Gudel mengamati. " Kang, langkah itu turun ke kali, kesana kang. Itu lihat, lumut - lumut di batu itu terkelupas !" Teriak salah satu perjaka sambil menunjuk - nunjuk ke arah bebatuan berlumut di kali. Tidak lagi berkata - kata Gudel, pak Blengur diikuti para perjaka segera turun ke kali mengikuti bekas telapak kaki. Guguran daun dan ranting patah yang terserak menghentikan langkah Gudel, pak Blengur dan para perjaka. Mereka dengan sengaja mendongakkan wajah mencari dari mana guguran daun dan ranting patah berasal. Mereka terkesiap, terpekik, dan surut mundur beberapa langkah. Jantung berdegup keras, mata seolah tidak percaya, Kliwon tergantung di sebuah dahan pohon dengan leher terjerat seutas tali, tali yang biasanya oleh warga digunakan untuk menambat kerbau. 
Geger desa tidak terelakkan. Warga yang mendengar kejadian yang menimpa Kliwon segera berbodong menuju rumah Kliwon, terutama para perempuannya. Banyak juga warga terutama para perjaka dan para lelaki berlarian menuju kali. Mereka ingin melihat dan akan mengusung jasad Kliwon untuk dibawa pulang ke rumah.
Hari yang cerah sumringah, yang malamnya digelar keramaian di rumah Tumi, berubah menjadi hari yang kelam. Hari yang kelabu. Hari yang haru biru. Hari yang geger.  Hari yang penuh tangisan. Warga sangat menyesali kejadian yang menimpa Kliwon. Warga hanya bisa bertanya - tanya. Mengapa Kliwon yang telah banyak menolong orang tiba - tiba tertimpa kejadian yang membuatnya meninggal dunia. Mengapa kliwon yang santun dan tidak suka banyak bicara tiba - tiba jasadnya tergantung di dahan pohon di kali. Kliwon bunuh diri ? Tidak. Karena telah ditemukan di dekat jasad Kliwon tergantung, telapak - telapak kaki orang yang lebih dari dua orang. Kliwon pasti diperdaya orang. Tetapi siapan orang yang tega memperdaya Kliwon ? Warga hanya bisa mengait - ngaitkan kematian Kliwon dengan kematian yu Jumprit. Mengapa orang yang justru telah banyak berbuat baik dicedarai. Ada apa di desa ini. Mengapa demikian. 
Menjelang sore dengan diantar ratusan pelayat dari warga desa dan para warga desa tetangga jenasah Kliwon dikuburkan di kuburan belakang desa. Pak Blengur dan para perjaka desa menutup liang lahat yang di dalamnya ada jasad Kliwon, menjelang matahari tenggelam. Pak Blengur bekerja dengan tidak banyak bicara. Dipikirannya sangat menyesalkan kejadian yang menimpa Kliwon. Tidak seharusnya ada orang yang tega berbuat demikian.
Tumi dan Gudel pengantin baru menjadi orang yang kemudian sangat sibuk membantu keluarga pak Pedut. Tamu pelayat yang harus disuguh gupuhi, dan diterima sebagaimana mestinya menjadi pekerjaan Tumi dan Gudel.  Wakini hanya bisa terus menangis. Menangisi suaminya yang tidak dinyana dan tidak disangka secepat ini meninggalkan dirinya. Pak Pedut hanya bisa duduk, tercenung, dan tidak tahu apa yang mesti dilakukan. 
Sejak kedatangannya dari kota saat jasad Kliwon belum dibawa ke kuburan Menik mengunci mulut. Tidak satupun sapaan dijawabnya. Tidak satupun pertanyaan warga dijawab Menik. Menik cemberut. Menik tidak menampakkan wajah cerah sedikitpun. Orang - orangpun menjadi takut kepada Menik. Menik begitu memberengut. Menik tidak berbicara kepada siapapun. Warga yang biasa dekat dengan Menik hanya bisa bertanya mengapa Menik bersikap demikian. Wajah Menik nampak sebagai orang yang sedang marah besar. Gudelpun yang dulu pernah sangat akrab dengan Menik tidak berani juga mendekati Menik yang tampak begitu muram durja. Gudel hanya bisa menduga - duga apa yang sebenarnya ada di pikiran Menik. Belum pernah Gudel menyaksikan wajah Menik yang demikian marah. Gudel tidak berani mendekati Menik. Gudel tidak berani menatap mata Menik. Gudel hanya dengan cara melirik saja ketika ingin melihat wajah Menik. Menik yang cantik di mata Gudel berubah menjadi Menik yang angker. Bahkan Gudel melihat di wajah Menik gambaran wajah Nyi Ramang nenek Menik. Katika mata Gudel menyaksikan itu, Gudel tidak lagi - lagi berani melirikan bola matanya ke arah Menik. Gudel begitu merinding. 
Tumi yang biasanya berani dekat dengan Menik tidak bisa berbuat banyak. Tumi juga takut kepada Menik yang sejak kedatangannya tidak sedikitpun matanya menatap dirinya. Jangankan menatap, melirik dirinya saja tidak. Tumi teringat ketika dulu para perawan termasuk Menik menelanjangi diri di kedung. Bercengkerama saling pegang payudara. Dan saling raba yang ada di bawah pusar. Dan kalau sudah sampai begitu mereka pada tertawa cekikikan. Bahkan adan yang tidak malu - malu mendesah dan ingin miliknya terus diraba. Dan Tumilah perawan yang paling suka nakal. Milik siapa saja digasak tanpa ampun. Tumi tidak segan - segan mencengkeram payudara perawan dan nekat menggigit putingnya. Dan perawan yang menerima perlakuan nakal Tumi ini hanya bisa menjerit - njerit dan timbul tenggelam di air kedung. Tidak jarang pula Tumi menakali teman perawannya dengan menyodokan sabun ke milik teman perawannya. Dan yang diperlakukan begitu hanya bisa teriak - teriak karen Tumi sangat nekat melakukannya. Dan hanya Meniklah yang tidak bisa dinakali Tumi. Selain karena Menik tidak pernah mandi telanjang, juga karena Menik selalu menghindar ketika Tumi datang mau menakalinya. Tetapi satu saat pernah juga Menik kecolongan miliknya bisa diraba Tumi saat dirinya sedang menyabun tubuhnya tiba - tiba Tumi menubruk dirinya dan memasukkan tangannya di kain bawahnya yang sudah melorot. Dan ketika Menik membalas perbuatan Tumi justru Tumi menyediakan miliknya untuk dinakali. Dan Tumi menikmati. Dan Menikpun melayani kesukaan Tumi.
Warga dekat, orang jauh terus berdatangan silih berganti melayat dan menyampaikan rasa bela sungkawa dan juga bermaksud ingin mengerti apa penyebab kematian Kliwon  dengan cara yang tidak wajar. Sampai dengan saat malam doa akan digelar pelayat tidak berhenti berdatangan.

bersambung ..........................










Rabu, 01 Mei 2013

Cubung Wulung 

                                                                                               edohaput


Ketujuhpuluhsembilan

Langkah Gudel terhenti sejenak. Dipandanginya onggokkan batu - batu nisan di kuburan. Mata Gudel menebar pandang ke sekeliling. Kuburan tampak bersih terawat. Tumbuhan kemuning tertata rapi, berjenis - jenis kemuning dengan daun yang bentuk berbeda dan warna berbeda. Tetapi semua daun kemuning dihiasi warna kuning yang dominan. Tidak ada rumput liar yang tumbuh di sela - sela batu nisan. Pohon kamboja berbunga putih, ungu, merah, sedang mekar - mekarnya. Bertebaran luruhan bunga kamboja masih terlihat di pagi ini. Wanginya bunga kamboja adalah aroma khas kuburan. Kuburan tampak sangat terpelihara. Rupanya pak Blengur sebagai juru kunci kuburan tidak pernah malas merawat. 
Mata Gudel tertumbuk dengan rumah pak Blengur di tepi kuburan. Rumah kecil dengan taman asri di depan rumah. Pintu masih tertutup rapat. Dipikiran Gudel pak Blengur masih belum terjaga dari tidurnya. Gudel melangkah mendekati rumah pak Blengur dengan melompati batu - batu nisan yang ada. Sampai di depan pintu yang masih tertutup Gudel kaget. Karena mendengar suara rintihan seorang perempuan dari dalam rumah pak Blengur. Rintihan yang setelah oleh Gudel didengar dengan cara menempelkan telinga di pintu, ternyata rintihan seorang perempuan yang mendesah. Gudel surut kebelakang beberapa langkah. Ada apa di rumah pak Blengur. Pagi - pagi begini ada suara desahan perempuan. Gudel maju lagi beberapa langkah dan mencoba menempelkan matanya di celah dinding bambu. Gudel sangat kaget. Dilihatnya dari lubang intipnya, mbok Semi yang telanjang sedang ditindih tubuh pak Blengur yang juga telanjang. Kedua kaki mbok Semi melingkar di pinggul pak Blengur dan terus bergerak - gerak, dan kedua tangannya meremas, menjambak rambut pak Blengur yang gondrong karena jarang di cukur. Sementara itu juga dilihat oleh satu mata Gudel pak Blengur terus menggerakkan pantat naik turun, maju mundur, dengan interval yang pendek dan cepat. Yang terdengar di telinga Gudel bukan lagi rintihan dan desahan dari mbok Semi, melainkan jeritan - jeritan mbok Semi yang nekat dikeluarkan dari mulut tanpa takut - takut dan malu - malu. Barangkali mbok Semi berpikir ini kuburan, tidak mungkin ada seorangpun sepagi ini datang ke kuburan. Sehingga mbok semi nekat dan leluasa menjerit mengekpresikan kenikmatannya ketika terus digenjot pak Blengur. Suara deru napas pak Blengur juga begitu jelas di telanga Gudel. Tak urung itu semua membuat milik Gudel menggeliat dan tiba - tiba kaku. Gudel ingat Tumi. Rasanya Gudel ingin segera meninggalkan kuburan dan rumah pak Blengur berlari pulang dan segera akan memeluk Tumi. Niatnya diurungkan karena ia pagi ini harus bertemu pak Blengur yang mungkin tahu tentang Kliwon. Dan anehnya ada rasa enggan Gudel melepas mata dari lubang intip. Matanya malah diposisi - posisikan agar pandangannya semakin memperoleh ruang. Sejurus kemudian Gudel melihat pak Blengur terkejang dan melenguh keras bak harimau sedang menangkap mangsa. Sedangkan mbok Semi yang ada di bawah tubuh pak Blengur bagai cacing kena panas. Kedua kakinya terjulur kejang, dan bergerak membuat tikar pandan bergeresek keras. Sentakan - sentakan kedua makhluk yang sedang nikmat sampai di puncak ini membuat amben bambu berderak, berderit, dan bergoyang. Tidak lama kemudian mata Gudel menyaksikan keduanya lunglai dan terengah - engah. Gudel surut kebelakang menjauh dari rumah pak Blengur. Gudel bersembunyi di balik batu nisan. Gudel tahu pasti sebentar kemudian mbok semi akan meninggalkan rumah pak Blengur.
Betul apa yang disangkakan Gudel. Tidak lama kemudian mbok Semi keluar dari rumah pak Blengur dan bergegas meninggalkan rumah pak Blengur mengambil jalan setapak di tepi kali. Nampak kain mbok Semi dikenakan dengan tidak rapi. Sambil bergegas berjalan mbok Semi nampak membetulkan kainnya agar terlihat rapi. 
Beberapa saat kemudian Gudel muncul dari persembunyian dan melangkah ke rumah pak Blengur dengan melangkahi batu - batu nisan. Gudel mengetuk pintu. " Sapa ?" Suara dari dalam rumah menyapa. " Aku Gudel kang Blengur !" Gudel menjawab sapaan pak Blengur. " Masuk Del ...!" Pak Blengur minta Gudel membuka pintu. Gudel masuk rumah pak Blengur. Yang terlihat di mata Gudel amben yang berantakan. Tikar pandan melenceng - lenceng dari semestinya. Bantal terletak di sudut. Pak Blengur telanjang dada dan hanya memakai sarung. Celana kolor pak Blengur masih belum sempat dikenakan dan terserak di lantai tanah. Melihat itu semua Gudel hanya bisa tersenyum dalam hati. " Pagi - pagi begini menemui aku ada orang meninggal ya, sapa Del ?" Pak Blengur mengambil celana kolor di lantai tanah dan dikenakan. Lagi - lagi Gudel hanya bisa tersenyum dalam hati. " Dak kang, dak ada orang meninggal, kang." Gudel memberi keterangan. " Lalu ada apa ?" Pak Blengur selesai mengenakan celana kolor duduk diamben dengan bersila. Gudel memposisikan duduk di tepi amben yang tikarnya belum pas dipasang. " Kang Kliwon semalam dari rumah Tumi dak pulang ke rumah, kang. Aku takut terjadi apa - apa pada kang Kliwon. Jangan - jangan kejadian yang menimpa yu Jumprit terjadi pada kang Kliwon. Aku kesini barangkali kang Blengur punya sisik melik, kang." Gudel memberi keterangan. Pak Blengur mengerinyitkan dahi. Wajahnya berubah menjadi tegang. Diam. Pandangan matanya menerawang. Gudel hanya bisa menunggu apa yang akan diperbuat pak Blengur. Pak Blengur beranjak dari amben, menuju ruang rumah belakang, dan  kembali membawa sepasang serandal. " Ini aku temukan tadi malam sepulang aku nonton ledhek di rumah Tumi, Del ! Ini aku temukan di jalan masuk kuburan. Aku pulang dari pesta pernikahanmu sudah cukup larut, Del." Pak Blengur menunjukkan sepasang sandal kulit. Gudel kaget. Gudel tahu itu sandal Kliwon. Gudel deg - degan. Jantungnya berdegup. Pikiran jangan - jangan terbukti. Mulut Gudel seperti terkunci. Gudel hanya bisa menatap sepasang sandal. Setelah beberapa saat Gudel baru bisa bersuara : " Itu sandal kang Kliwon, kang Blengur. Duh jangan - jangan ... " Kalimat Gudel  berhenti disini. " Ini sandal Kliwon, Del ?" Wajah Pak Blengur menjadi semakin tegang. Di pikiran pak Blengur terbersit apa yang telah dialaminya dulu. Menemukan sepasang sandal yu Jumprit dan berahkir dengan ditemukannya jasad yu Jumprit yang diperdaya orang. Tak urung pak Blengurpun menjadi deg - degan. " Dah gini saja, Del. Kamu pulang. Ajak beberapa perjaka. Nanti kita susuri kali. Duh ... jangan - jangan .... " Pak Blengur berhenti berkata dan pandangan matanya kosong menerawang. Gudel cabut dari duduk dan segera meninggalkan pak Blengur yang bengong.

bersambung ..........................


Selasa, 30 April 2013

Cubung Wulung 

                                                                                               edohaput 


Ketujuhpuluhdelapan

Pagi datang belum sempurna. Udara gunung masih begitu dingin. Desa masih diselimuti kabut. Jarak pandang pendek karena kabut tebal belum bisa dikalahkan oleh matahari yang baru muncul separo dari balik gunung. Wakini berlari ke arah rumah Tumi. Kainnya dicincingkan sebatas paha agar larinya bisa lebih cepat karena tidak terhalang kain yang dikenakan sampai sebatas di bawah lutut. Wakini berlari membawa kecemasannya. Semalam Kliwon suaminya yang jagong di rumah Tumi tidak pulang ke rumah.  Wakini tahu kalau suaminya suka dengan tontonan tayuban ledhek. Maka semalam Wakini pulang ke rumah lebih dahulu meninggalkan Kliwon yang masih akan menunggu tayuban digelar di panggung di halaman rumah Tumi. Sampai di rumah saking penatnya Wakini langsung ambruk dan ketiduran. Wakini terbangun tidak menemukan suaminya di sampingnya. Dicari seisi rumah Kliwon tidak berada. Sudah jadi kebiasaan Kliwon kalau malam harinya terjaga, pagi harinya terlambat bangun. Pak Pedutpun yang semalam juga hadir sebentar di rumah Tumi tidak melihat Kliwon pulang ke rumah. Pak Pedut yang juga ketiduran kaget ketika Wakini menanyakan keberadaan Kliwon. Wakini was - was. Jangan - jangan suaminya ketiduran di rumah Tumi. Tetapi tiddak mungkin, karena itu bukan sifat Kliwon. Kliwon tidak pernah pergi menginap. Pergi jauhpun Kliwon akan berusaha pulang walau sampai di rumah harus larut malam. Ketidak pulangan Kliwon pagi ini membuat Wakini cemas.
Di rumah Tumi sepi. Ada beberapa perjaka yang masih ketiduran di kursi dekat panggung yang semalam digunakan menggelar acara tayub. Tumi langsung menerobos masuk rumah. Celingukan barang kali suaminya ketiduran di rumah Tumi. Tidak ada. Wakini langsung ke dapur. Ada dua perempuan yang sibuk dengan tungku api. Wakini mendekati kamar Tumi.  Mengetuk. Tumi dan Gudel terbangun. Tumi hanya berselimut kain. Gudel bertelanjang dada. Rupanya semalam sehabis berkegiatan Tumi dan Gudel belum sempat mengenakan kainnya masing - masing. Tumi dan Gudel kaget Wakini datang pagi - pagi. " Ada apa yu ? Yu Wakini jangan pagi - pagi dah keseni bantu - bantu. Nanti siang saja, Yu. Dak papa. Kasihan yu Wakini. Ngantuk - ngantuk dah mau bantu kerja beres - beres." Gudel mengucek matanya yang masih merah karena kantuk. " Dak, dik Gudel. Aku mau nanyakan kang Kliwon. Semalam kang Kliwon tidak pulang ke rumah. Mungkin dik Gudel tahu dimana kang Kliwon." Wakini menyampaikan kalimatnya dengan nada cemas. " Aduh Ni, aku dan kang Gudel ya dak tahu. Lha semalam ketika turun dari pelaminan aku dan kang Gudel langsung masuk kamar. Ya baru ini aku dan kang Gudel bangun, Ni." Tumi menjawab dan mata merahnya dibuka - buka untuk menatap Wakini yang cemas. " Dah yu wakini pulang saja dulu. Nanti aku tanyakan ke orang - orang." Gudel meninggalkan Tumi dan Wakini di depan pintu kamar menuju belakang rumah untuk membersihkan badan. " Ya dah Tum. Aku tak pulang dulu. Tolong ya Tum, dik Gudel nanti yang nanyakan Kang Kliwon pada orang - orang." Berkata begitu wakini bergegas meninggalkan Tumi yang menjawab permintaannya : " Ya ... ya Ni, dak usah kawatir." Mata Tumi yang kantuk membuntuti langkah Wakini yang tergesa. 
Gudel membangunkan para perjaka yang ketiduran di kursi dekat panggung. Para perjaka terbangun dan malu.  " Semalam ada yang melihat kang Kliwon ?" Gudel mengansurkan rokok kepada para perjaka yang ogah - ogahan bangun. Seorang perempuan datang membawa bergelas - gelas teh panas. " Ni pada Minum, biar matanya melek." Perempuan ini meletakan teh dan makanan di meja. " Ya tu diminum. Terima kasih ya. Dah pada bantu - bantu aku." Gudel duduk di kursi. Para perjaka tanpa ini itu segera menyaut minuman menyerutupnya dan segera menyulut rokok pemberian Gudel dan tampak sekali menikmati asap rokok yang dikepulkan dari mulut dan hidungnya. " Semalam Kang Kliwon meninggalkan sini tengah malam, kang Gudel." Seorang perjaka memberi keterangan. " Ya betul kang. Tengah malam lebih sedikit." Perjaka yang lain menyambung. " Kang Kliwon cuma duduk - duduk kok kang. Kang Kliwon tidak ikut nyawer ledhek." Perjaka yang lain lagi menyambung. Gudel hanya mengerinyitkan dahi. " Dah pada diminum. Nanti siang tolong ya, bantu diberesi. Bentar lagi pada makan, tu dah dimasakkan soto sama sambel biar kantuknya ilang." berkata  begitu Gudel meninggalkan para perjaka yang menikmati rokok dan teh kental manis.
" Tum kabar dari Yu Wakini tadi yang bilang kang Kliwon semalam tidak pulang ke rumah kok membuat aku jadi deg - degan. Ada apa ya, Tum ?" Gudel membantu Tumi mengenakan kain. Tumi selesai mandi. Di kamar masih telanjang. Gudel mengelus tubuh Tumi dan membantu mengenakan kain di tubuh Tumi. Sempat pula sedetik Gudel mengagumi tubuh Tumi. Dan ingin rasanya memeluknya. Mengapa tubuh istrinya sangat berbeda dengan ketika waktu menjadi pacarnya. Kenapa justru sekarang malah tubuh Tumi begitu muda. Begitu ranum. Semua kencang padat. Payudaranya begitu menggunung kecang padat kenyal seperti milik perawan belasan tahun. Semalam tubuh Tumi yang sekarang telah menjadi isterinya, telah dibuatnya terkejang - kejang, karena tangannya yang terus menggerayangi milik Tumi yang mudah geli. Semalam Tumi telah dibuatnya terpuas - puas. Dibuatnya merintih - rintih nikmat. Dibuat mendesah - desah ketika sampai. Dan dirinya juga sangat menikmati. Karena tubuh Tumi bak tubuh perawan muda yang sangat menyenangkan diraba, diremas, dikilik dan diciumi. Ingin rasanya Gudel melakukan lagi kegiatan seperti semalam. Tetapi pikirannya terganggu oleh adanya berita Kliwon tidak pulang ke rumah.  " Kok aku ya juga kawatir banget dan cemas ya, kang. Perasaanku jadi dak enak. Ada apa ya, kang. Mudah - mudahan dak terjadi apa - apa pada diri kang Kliwon." Wakini berkata jujur kepada Gudel tentang perasaannya. " Dah, kalau gitu aku pamit. Pagi ini aku tak mencari kang Kliwon. Perasaanku dak enak banget, Tum." Gudel berganti kain dan segera meninggalkan Tumi yang masih sibuk mengenakan kain. " Ya kang, bantu Wakini menemukan kang Kliwon. Ah ada - ada saja." Wakini mengiyakan permintaan Gudel. Yang mungkin sudah tidak didengar Gudel karena Gudel bergegas  meninggalkan Tumi di kamar.  
Langkah Gudel dituntun oleh perasaan dan dugaan yang ada dipikirannya. Gudel menuju kuburan yang berada di belakang desa. Tujuan Gudel ingin menemui pak Blengur. Gudel berprasangka jelek. Jangan - jangan Kliwon diperdaya orang. Dulu ketika yu Jumprit mati diperdaya orang pak Blengurlah yang menemukan petunjuk. Dituntun oleh perasaannya yang was - was tidak ada lain pak blengurlah yang menjadi tujuan langkah kaki Gudel. Gudel harap - harap cemas. Gudel berharap pak Blengur tidak menemukan petunjuk seperti ketika yu Jumprit hilang. Kalau pak Blengur ada petunjuk tentang Kliwon, jangan - jangan Kliwon juga diperdaya orang. Dulu yu Jumprit hilang dan ditemukan sudah tidak bernyawa ketika ada keramain di rumah pak Lurah. Kini Kliwon hilang ketika ada keramaian yang memeriahkan malam pernikahannya dengan Tumi. Gudel terus was - was. jantungnya berdegup keras. Dipikirannya hanya ada, jangan - jangan. Jangan - jangan ....

bersambung ................
 

Senin, 29 April 2013

Cubung Wulung 

                                                                                               edohaput 


Ketujuhpuluhtujuh

Kegiatan perhelatan pernikahan Tumi dengan Gudel sampai di puncaknya. Sejak sore tamu - tamu yang berdatangan silih berganti. Kesibukan di rumah Tumi menjadi luar biasa sibuk. Wakini dibantu perawan - perawan desa sangat cekatan melayani tamu - tamu yang datang menyumbang. Para perjaka yang sejak tiga hari sebelum hari puncak hari ini disibukan dengan berbagai persiapan termasuk mendirikan panggung hiburan Ledhek Tayub yang akan digelar, juga masih terus bergiat membantu demi lancarnya perhelatan. Candaria para perawan dan para perjaka menambah suasana ceria dan gembira di rumah Tumi. 
Seiring dengan merangkaknya malam, suara gamelan yang ditabuh mendayu, semakin membuat suasana semarak. Tumi yang didandani bak bidadari membuat kagum orang. Tumi tampak begitu cantik, muda dan bercahaya. Tumi duduk di pelaminan bersama Gudel yang juga didandani ala raja jawa. Tumi dan Gudel bak raja dan ratu yang sedang bertemu dengan rakyatnya. Tumi sangat mengumbar senyum cantiknya ketika menerima salam selamat dari para tamu. Begitu juga Gudel tampak sangat bangga bisa bersanding dengan Tumi yang malam ini kecantikannya mucul dengan sangat bercahaya. 
Juragan Gogor yang duduk di antara para tamu yang lain, menyaksikan kecantikan Tumi menjadi sangat geram. Berkali - kali hanya bisa menatap Tumi sambil menelan ludah. Tumi yang didandani ala perawan jawa dengan model pakaian yang hanya menutup separo dadanya, membuat mata juragan Gogor tidak lepas menatapnya. Khayalan juragan gogor melayang - layang, membayangkan tubuh Tumi dapat dikuasainya. Sesekali juragan Gogor menderakkan giginya tanda jengkel dan marah. Mengapa dirinya tidak mampu menggagalkan pernikahan Tumi. Lain lagi dengan juragan Rase yang tampak nelangsa. Sorot matanya lesu. Mengapa dirinya yang kaya raya ini ternyata tidak bisa memiliki perawan secantik Tumi. Dan yang lebih menyakitkan dirinya ternyata Tumi tetap tidak bisa berpisah dengan Gudel perjaka melarat yang hanya mengandalkan tubuhnya yang besar dan kekar. 
Gamelan terus bertalu - talu. Suara pesinden yang merdu merayu membuat suasana malam menjadi semakin semarak. Tarian - tarian Tradisional di gelar untuk menyemarakkan malam dan menjadi hiburan bagi para tamu. 
Malam semakin merangkak jauh. Tumi dan Gudel sudah tidak lagi ada di pelaminan. Para tamu terutama para perempuan sudah meninggalkan rumah Tumi. Tetap tinggal para lelaki dan para perjaka yang menantikan acara Tayub digelar. Termasuk juragan Gogor dan juragan Rase, masih tetap tinggal. 
Munculnya Ledhek di panggung membuat para perjaka mulai merangsek maju mendekati panggung. Tidak ketinggalan para lelaki juga merangsek maju pindah duduk di kursi yang ditata dekat panggung. Juragan Gogor dan juragan Rase menempati deretan kursi terdepan. Gamelan beritme galak dan centhil mengiringi lenggak - lenggok Ledhek yang gerakkannya sangat mengundang birahi lelaki. Pantat di naik - naikkan dan dimegal - megolkan. Dada yang begitu membusung disodor - sodorkan. Wajah yang dirias menor disedia - sediakan untuk di tumbuk hidung lelaki. Dua orang Ledhek cantik dan bahenol telah berada di atas panggung dengan lenggak - lenggoknya yang menantang. Orang yang paling tidak tahan untuk segera naik kepanggung untuk melakukan saweran terhadap Ledhek adalah juragan Gogor. Dengan gagahnya juragan Gogor menaikki tangga naik ke panggung dan segera berjoget bersama Ledhek. Tepuk tangan meriah dari para perjaka mengiringi awal juragan Gogor berjoget. Mata juragan Gogor tidak lepas dari dada - dada besar Ledhek. Dan tangan juragan Gogor tidak tahan untuk tidak usil. Sambil berjoget juragan Gogor terus menyawer. Uang saweran diselipkan di dada - dada Ledhek. Dan saat itu juga tangan juragan Gogor tidak bisa tidak usil mencolek - colek buah dada Ledhek. Dan Ledhek - Ledhek tidak menolak bahkan menyedia - sediakan dadanya dicolek - colek karena uang sawera juragan Gogor sangat menguntungkan. Para penonton hanya bisa menelan ludah dan ngiler menyaksikan ulah juragan Gogor. Juragan Gogor di panggung bersama Ledhek - Ledhek cantik membuat juragan Gogor melupakan Tumi yang sedari tadi sangat dikagumi dan digerami. 
Juragan Rase yang mentimunnya menggeliat - geliat di dalam celana menyaksikan ulah juragan Gogor terhadap Ledhek, tdak tahan untuk tidak segera naik panggung. Juragan Rase juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan juragan Gogor. Bahkan juraga Rase berani semakin nekat dengan menyenggol - senggolkan mentimun yang kaku di dalam celana ke pantat Ledhek. Dari balik tirai muncul lagi Ledhek cantik muda dan tidak kalah bahenolnya. Di panggung ada tiga ledhek. Seorang perjaka yang selama sebulan mengumpulkan uang agar bisa di panggung dan nyawer Ledhek naik panggung. Sorak sorai menggema. Gamelan semakin galak dan semakin centhil. Ledhek semakin menggoda. Suasana birahi tak terelakkan. Para perjaka yang tidak berduit hanya bisa berada di bawah panggung sambil memegangi mentimunnya yang berontak. 

Di dalam kamar Tumi telah melepasi kainnya. Tumi telah setengah telanjang. Demikian juga Gudel. Gudel kali ini berbeda dengan Gudel yang dulu yang tidak menyukai Tumi. Sejak sembuh dari sakitnya dulu, apalagi sejak tubuh Tumi kembali kemudaannya Gudel yang mengagumi Tumi. Gudel tidak tahan untuk tidak segera memeluk Tubuh Tumi yang muda, padat dan sintal. " Tum aku sayang kamu ... Tum ... " Hanya itu yang diucapkan Gudel. Selebihnya Gudel segera memeluk Tumi, dan mencium bibir Tumi yang masih bergincu merah dengan semangat birahinya. Tangan Gudel dengan tidak sabar melepasi kain yang tersisa di tubuh Tumi. Tumi telanjang. Gudel dengan gemasnya meremas dada Tumi yang sangat padat kenyal dan menggemaskan. Gudel tidak habis pikir mengapa tubuh Tumi begitu ranum. Berbeda ketika dulu - dulu ketika dirinya pernah menggerayangi tubuh Tumi. Tumi hanya bisa menggelinjang dan menikmati keganasan Gudel yang birahinya meledak - ledak. Tumi dan Gudel bergumul saling tindih, saling goyang, dan saling mendesah dan melenguh. Ranjang berderak - derak dan awut - awutan karena cinta kasih mereka sedang beradu dan memuncak. Napas - napas mereka yang menderu, kecipak paha yang saling beradu, jeritan dan lenguhan, tertindih suara gamelan galak yang mengiri lenggoknya Ledhek yang sedang disawer dan dinakali. 

bersambung ...............

 
 

Sabtu, 20 April 2013

Cubung Wulung

                                                                                                  edohaput


Ketujuhpuluhenam

Siang cerah. Di rumah Tumi ramai orang. Mereka sedang mempersiapkan uba rampe tarub untuk perlehatan pernikahan Tumi dengan Gudel. Para perjaka desa sibuk menata halaman, menghias rumah, dan ada juga yang sibuk dengan hewan - hewan yang akan disembelih. Para perawan sibuk di dapur mengepulkan asap dapur. Ada juga yang perawan - perawan yang sibuk membuat hiasan dari janur untuk penghias pelaminan pengantin. 
Wakini menjadi orang yang sangat sibuk. Karena dirinya dimintai tolong oleh Tumi untuk menjadi orang nomor satu  untuk urusan perhelatan  mantu ini. Wakini menjadi orang yang banyak mengatur segela sesuatu yang berhubungan dengan perhelatan. Mulai dari urusan dapur sampai urusan tamu - tamu yang bakal datang menjadi tanggung jawab Wakini. Wakini tiba - tiba menjadi orang penting untuk urusan ngunduh mantunya Tumi.
Para perempuan tetangga jauh tetangga dekat berbodong - bondong berdatangan dengan digendongannya ada tenggok yang berisi bahan mentah untuk disumbangkan ke keluarga Tumi. Bentuk kerukunan saling sumbang di desa masih sangat kental dan menjadi kewajiban warga. Plencing dan Tobil datang menuntun seekor sapi dari juragan Gogor untuk di sumbangkan. Juragan Rase bersama para pembantunya datang menuntun beberapa ekor kambing.Persiapan perehelatan pesta mantu menjadi sangat ramai orang. Celoteh para perawan yang menggoda para perjaka menjadi hiasan suasana tarub di hari cerah yang menyenangkan.
Genjik yang datang ikut tarub menjadi perhatian para perawan. Genjik yang hanya mengenakan kaos pendek tanpak begitu kekar. Tubuhnya yang tinggi tegap berkeringat karena dirinya mendapat pekerjaan angkat - angkat barang dan memotong - motong kayu bakar. Otot - otot lengannya tanpak begitu menonjol. Dada bidangnya yang sedikit terbuka menjadi lirikan para perawan. Genjik yang rambutnya sedikit gondrong tidak tahu kalau dirinya banyak diperhatikan dan dilirik mata para perawan. 
Wuli mendekati Genjik yang sedang mengelap keringat di dahi dengan punggung tangannya. " Kang minta tolong bisa ?" Wuli menatap tajam mata Genjik. " Minta tolong apa ?" Genjik juga menatap mata Wuli yang tinggi tubuhnya hanya sepundaknya. " Tu janurnya kurang. Kang Genjik bisa manjat pohon kelapa ta, kang ?" Wuli menoleh ke arah para perawan yang lagi pada sibuk dengan janur, dan diikuti pandangan mata Genjik yang juga melihat para perawan yang  sedang merangkai janur sebagai hiasan di pelaminan nanti. " Lho itu janurnya masih banyak banget, Wul ?" Genjik melihat tumpukan janur yang memang masih banyak. " Kurang kang itu nanti. Tambah saja beberapa pelepah, kang ! Ya kang ya ... " Wuli berubah menjadi manja di depan Genjik. " Ya ... dah ... ayo !" Genjik membungkuk mengambil parang dan mengikuti langkah Wuli keluar dari kerumunan orang yang sedang sibuk dan tidak sempat memperhatikan Wuli dan Genjik. " Ngambil dimana Wul janurnya ?" Genjik terus melangkah mengikuti langkah Wuli. " Di belakang rumahku saja kang, yang pohonya pendek - pendek." Wuli menjawab tanpa menoleh ke Genjik yang berjalan di belakangnya. 
Beberapa pelapah janur berhasil diambil Genjik dari pohon kelapa. Sementara itu Wuli sibuk di dapur rumahnya menyiapkan minum untuk Genjik. " Kang masuk rumah dulu, kang. Minum !" Wuli berdiri di pintu dapur yang menghubungkan dapur dengan belakang rumah. " Ah dak usah Wul. Aku dak haus." Jawab Genjik pendek sambil menyeret pelepah janur. " Tu ada growol lho kang. Growolnya anget." Wuli ngeyel agar Genjik masuk rumah. Mendengar ada growol Genjik jadi kepingin. Genjik ragu. " Dah ayo ... !" Wuli mendekati Genjik dan menarik tangan Genjik diajak masuk rumah. Genjik tidak bisa menolak. " Lho kok sepi Wul ? Kemama bapak sama mbokmu ?" Genjik memperhatikan dalam rumah yang sepi. " Lho gimana ta kang Genjik ini. Ya simbok dan bapak ada di rumah Tumi ta. Dah duduk, tu diminum ati - ati panas. Growolnya dimakan. Tunggu aku mau mandi dulu." Berkata begitu Wuli berlalu dan menuju tempat mandi di dekat dapur yang hanya ditutup anyaman bambu. Genjik bisa melihat tubuh Wuli yang mulai tidak tertutup kain karena satu - satu dilepasi dari celah - celeh gedhek bambu yang dianyam jarang. Genjik tidak perduli. Hanya sebentar saja melirik. Genjik lebih tertarik growolnya yang dilumati parutan kelapa muda. Genjik malah sibuk makan Growol dan tidak ingat kalau Wuli sudah telanjang dan sebenarnya bisa nampak dari celah gedhek. Suara guyuran air dan kecipak tangan Wuli yang menggosok tubuhnya tidak terdengar oleh Genjik, karena dikalahkan oleh gurihnya growol di mulutnya. 
Wuli selesai mandi. Tubuh telanjangnya hanya dibalut pakai handuk yang cupet. Paha putihnya sangat nampak. Dan payudaranya hanya separo yang tertutup haduk. Wuli duduk duduk di amben di depan Genjik duduk. Genjik kaget karena bisa melihat jelas tubuh Wuli. Duduknya Wuli seenaknya sehingga pahanya terbuka dan Genjik bisa melihat milik Wuli yang rambutnya tipis. " Lho kok malah duduk ta Wul. Dah cepet kainnya dipakai !" Genjik tetap menatap milik Wuli yang sengaja oleh Wuli semakin ditampakkan. " Ah kang Genjik ini. Aku juga mau minum dulu." Wuli semakin berulah. Handuk kendor dan melorot. Payudaranya semakin nampak di mata Genjik. Genjik menelan ludah dan matanya beralih pandang ke buah dada Wuli yang tidak begitu besar tetapi nampak menggunung kencang. " Kang kamu kok dak nikah - nikah ta kang. Takut perawan ya ?" Wuli mulai memancing suasana. " Ah mana ada perawan yang mau sama aku. Bekas pembunuh. Dan pernah berbuat jahat." Genjik menjawab jujur. " Lho itu kan dulu kang. Sekarang kang Genjik kan orang baik." Wuli berulah semakin nekat dari duduknya. Lututnya ditekuk ke atas. Seluruh selangkangan Wuli jelas nampak di mata Genjik. Sekali lagi Genjik menelan ludah. Dan mentimunnya yang di dalam celana menggeliat mendesak bagian depan celananya. " Dah sana cepet pakai kain. Jangan gitu ah, Wul !" Genjik bingung antara sikap Wuli begini dan mengapa Wuli nekat saja di depannya. " Kenapa kang. Kepingin ?" Wuli semakin nekat bicaranya. " Kalau kepingin ya ayo kang ! Aku layani !" Wuli bangkit dari duduk dan menarik tangan Genjik. Seperti kena setrum Genjik hanya manut saja mengikuti tarikan tangan Wuli menuju ke kamar. " Wul ... Wul ... lho ... Wul ...!" Genjik masih bingung. Tetapi di pikirannya juga sudah dipenuhi rasa ingin. 
Wuli ketika melihat Genjik saat memotong - motong kayu dengan kapak tiba - tiba darahnya menjadi mengalir deras. Kekokohan Genjik di mata Wuli menimbulkan rangsangan yang tak terbendung. Wuli mencari akal bagaimana caranya supaya bisa dekat Genjik dan bisa mengajak Genjik. Wuli menemukan cara dan alasan. Janur kurang. Genjik dimintai tolong menambah pelepah daun. Wuli berhasil. 
Di dalam kamar. Handuk wuli terlepas. Wuli telanjang bulat. Tangan wuli tanpa ragu - ragu meraih tangan Genjik dan dibimbing ditempelkan di miliknya. " Jangan Wul. Jangan ... jangan. Kamu masih perawan, Wul. Perawanmu untuk suamimu, Wul." Genjik mengingatkan Wuli di sela - sela napasnya yang tak urung memburu. " Dak kang aku dah dak perawan lagi. Perawanku dah diambil sama juragan Rase." Wuli jujur. Mendengar pengakuan Wuli Genjik kaget. Tetapi kekagetnya hanya berlangsung beberapa detik. Mengetahui Wuli sudah tidak perawan Genjik menjadi tidak lagi merasa kasihan terhadap Wuli. Tangannya yang sudah menempel di milik Wuli segera beraksi. Wuli mendesah. Genjik memeluk Wuli dan otak Genjik sudah dipenuhi birahi. Genjik dengan ganas segera menciumi payudara, bibir, dan leher Wuli. 
Wuli yang sudah lama tidak lagi diundang ke rumah juragan Rase menjadi sangat rindu dan sangat ketagihan. Melihat besar dan berototnya tubuh Genjik wuli menjadi sangat terangsang. Wuli dan Genjik yang telah kesetanan jatuh di amben kamar. Mereka segera bergumul. Dengan kakinya Wuli telah berhasil memelorotkan celana kolor Genjik. Mentimun Genjik mencuat mendongak. Sempat Wuli melihat milik Genjik. Wuli menjadi sangat bernafsu. " Kang ayo kang ... aku dah dak tahan. Kang ... ayo ... !" Wuli mengangkat - angkat pantatnya. Dan membuka kangkangannya lebar - lebar. Genjik segera menempatkan diri. Menempelkan mentimunnya di milik Wuli dan didorongnya kuat. " Aaaaaahhh ... kang ... aahhh ... enak banget, kang !" Wuli kemudian memejamkan mata menikmati mentimun Genjik yang terus menyodok - nyodoknya. 

bersambung ...................


Jumat, 19 April 2013

Cubung Wulung 

                                                                                              edohaput


Ketujuhpuluhlima

Desas desus akan diperbaikinya jalan desa atas bantuan tamunya Kliwon yang dari kota itu, sangat cepat tersebar di kalangan warga. Orang menyambut gembira. Jalan lincin, naik turun, dan selalu becek terbayang akan menjadi jalan yang keras, rata dan mudah dilalui. Warga menunggu kapan itu akan terlaksana. Sementara kali ini hanya baru sebatas kabar angin. 
Yang paling tidak setuju jalan desa diperbaiki adalah juragan Gogor dan juragan Rase. Jika jalan baik dan warga bisa mudah pergi pulang ke kota juragan - juragan ini akan menderita rugi, karena hasil bumi akan mudah dibawa ke kota dan juragan - juragan ini menjadi tidak bisa memonopoli hasil bumi yang bisa dibeli dengan harga murah dan dijual lagi dengan harga yang baik. 
Juragan Rase menemui juragan Gogor. " Mas Gogor dan saya harus mencari cara untuk menggagalkan jalan itu diperbaiki." Juragan Rase memulai kalimatnya dengan nada semangat jahat. " Betul dik. Kita harus berpikir dan membuat siasat agar jalan tidak diperbaiki." Juragan Gogor menimpali kalimat nada jahat juragan Rase. " Lagi pula aku takut orang - orang akan menjadi pinter. Terutama para perawannya, kalau mereka pinter dan terpengaruh pengetahuan kota, jangan - jangan aku jadi tidak bisa leluasa berbuat menikmati perawan mereka." Kalimat ini diahkiri oleh juragan Gogor dengan tertawa lepas. " Na itu mas, Kita jadi akan rugi besar." Juragan Rase mengangkat gelas minuman yang disajikan juragan Gogor. " Ngomong - ngomong mas Gogor dah pernah sama Tumi ya ?" Tiba - tiba juragan Rase mengalihkan topik pembicaraan. " Tumi ? Aaahh ... Tumi ? Mengapa sekarang Tumi jadi semakin muda dan tambah cantik dan berbinar ? Heran ... mengherankan sekali. Duh ... Tumi ... Tumi ... heeeem. " Juragan Gogor menjadi seperti bicara sendiri dan nada bicaranya seperti orang sedang gandrung. " Tumi itu sebentar lagi dipinang Gudel, dik Rase. Sayang mengapa Tumi harus dapat orang miskin kaya Gudel. Sayang benar dik Rase. Sayang, Tumi sebenarnya dak sepadan kalau dapat Gudel yang berangasan itu." Juragan Gogor semakin seperti orang yang sedang galau memikirkan seseorang. 
Juragan Gogor menjadi tidak fokus. Pikirannya melayang kepada Tumi. Tumi yang tidak bisa dilupakan dari ingatannya. Tumi yang selalu mengganggu tidurnya. Terbayang di benak juragan Gogor Tumi yang menggeliat dan mulutnya ternganga - nganga ketika buah dadanya diremas gemas. Dan dari mulut Tumi yang ternganga mengempas nafas wangi mawar yang mumbuat juragan Gogor tidak tahan untuk membekap bibir Tumi dengan bibirnya. Dan ketika bibir Tumi mendapat bekapan bibirnya. Tumi hanya bisa mendesah tertahan. Sementara itu tangan juragan Gogor telah sampai di milik Tumi yang celana dalamnya sudah kendor karena ditarik - tarik paksa tang kuat juragan Gogor. Kalau sudah begitu tidak sedetikpun juragan Gogor memberi kesempatn kepada Tumi untuk bernapas. Tidak ampun lagi karena nafsu birahinya telah tidak terkendali. Yang ada juragan Gogor bagai harimau yang sudah mencengkeram mangsa. Tubuh Tumi menjadi barang mainan yang indah dan sangat menyenangkan. 
" Mas ... mas Gogor ... mas ... lha kok malah ngelamun ta ?" Juragan Rase melihat juragan Gogor yang wajahnya merah matanya menatap langit - langit rumah dan kakinya bergerak - gerak. Teguran juragan Rase membuyarkan lamunan juragan Gogor. Dan membuat juragan Gogor kaget dan merasa malu. Tetapi dasar juragan Gogor, mulutnya malah berkomat - kamit menyebut nama Tumi. " Tumi ... ah ... Tum ... Tum ... mengapa kamu dak bisa kumiliki." Juragan Gogor kemudian nampak Geram. " Tobil ... ! ... Plencing ..!" Juragan Gogor berteriak keras.
Tergopoh - gopoh Tobil dan Plencing datang. Juragan Gogor melemparkan beberapa gepok duit. " Jangan gagal ... bawa Tumi kesini. Aku dah dak tahan!" Juragan Gogor memelototi kedua pembantunya dan mulutnya mecucu memberengut membuat Plencing dan Tobil sangat ketakutan. 
Tanpa ba bi dan bu Plencing dan tobil meraup uang di meja dan segera bergegas meninggalkan juragan Gogor dan juragan Rase.Di pikiran mereka yang terbayang Seni. Plencing dan tobil tidak akan menemui Tumi. Yang akan mereka datangi Seni. Toh juragannya tidak akan marah. Karena ternyata Seni juga bisa membuat juragannya senang dan puas. Tumi yang tinggal hanya dalam hitungan hari di pinang Gudel tidak akan bersedia diminta oleh juragannya. Dari pada sia - sia lebih baik menadatangi Seni. Toh Seni baru sekali dibawa ke juragannya. 
 " Dik Rase ... Tumi dak ada duanya. Banyak perawan dah aku rasakan dak ada yang yang rasanya senikmat memeluk Tumi. Tumi benar - benar dak ada duanya. Ah ..Tumi ..Tumi ... !" Juragan Gogor melepaskan kalimat - kalimatnya bagai mengigau. Kembali juragan Gogor menjadi bengong karena bayangan Tumi lagi - lagi memenuhi benaknya. Tumi yang telanjang dan tubuhnya dikuasainya. Diraba, diremas, dijilati, dipeluk erat. Hangat, penuh desah napas, dan gelinjangan. Tumi yang tubuhnya wangi melati. Yang napasnya wangi mawar, yang rambutnya terurai menebarkan wanginya jeruk nipis segar. Padatnya tubuh Tumi yang licin karena keringat membuat tangan mudah menelusur kemana - mana dan menyentuhi bagian - bagian yang menonjol yang kalau tersentuh membuat mulut ternganga dan menjerit kecil. 
Juragan Rase tersenyum melihat kebengongan juragan Gogor. Juragan Rase hanya bisa sesekali mengepulkan asap dari mulutnya. Asap dibuang sampai menyentuh langit - langit rumah. Juraga Rase tahu kalau juragan Gogor sedang menikmati bayangan Tumi. Maka dirinya tidak mau mengganggu dibiarkan juragan Gogor semakin masuk dalam lamunan. 
Juragan Rase yang juga pernah sekali menikmati Tumi menjadi sangat percaya kalau juragan Gogor menjadi sangat ketagihan. Benar Tumi memang tidak ada duanya. Juragan Rase yang juga telah banyak berpengalaman dengan penjaja tubuh di kota, tetapi juga belum pernah menemukan perawan yang seperti Tumi. Mengapa Tumi bisa begitu berbeda dengan perawan lain. Tetapi dirinya tidak seperti juragan Gogor yang begitu merindu Tumi. Barangkali karena dirinya tidak lebih berduit dibanding juragan Gogor, maka dirinya tidak bisa lebih leluasa seperti yang dilakukan juragan Gogor.
" Edan ... ! Edan ... mengapa pikiranku selalu dibayangi Tumi. Edan ... ah .. Tumi ...!" Juragan Gogor tiba - tiba kembali seperti orang mengigau. " Dah lah mas ... Mas Gogor lupakan saja Tumi." Juragan Rase lagi  - lagi membuat juragan Gogor ingat akan dirinya. Juragan Gogor tampak tidak malu - malu menyebut nama Tumi di depan juragan Rase. " Wah ... dik ... Tumi itu sekarang malah lebih membuat aku semakin gila. Kenapa Tumi sekarang malah nampak sangat muda. Sangat perawan.  Dik Rase tahu itu dak, dik ? Wah betapa senangnya si Gudel itu. Kenapa tidak aku !" Juragan Gogor memelototi awang - awang yang di sana ada bayangan Tumi perawan yang kembali menjadi muda. " Tahu mas ... aku tahu ... tidak hanya Tumi yang kemudaannya muncul kembali. Wakini isteri Kliwon juga begitu, mas !" Juragan Rase memantapkan pernyataan juragan Gogor. " Nah dik ... Tumi bisa jadi kembali muda, Wakini bisa kembali muda, itu pasti Kliwon yang membuatnya. Jimat Kecubung Wulung itulah yang digunakan Kliwon untuk membuat Wakini dan Tumi jadi muda lagi. Makanya dik, kita harus atur siasat, kita cari cara jimat itu bisa berpindak ke tangan kita. Kalau jimat itu bisa pindah ke tangan kita, apa saja bakal bisa kita kuasai." Juragan Gogor semangat. " Siap mas ... siap ... ! Apapun caranya dan berapapun biayanya akan kita upayakan !" juragan Rase menambah semangat juragan Gogor. "Kita perdaya Kliwon kalau memang Kliwon itu tidak bisa secara baik - baik mau menyerahkan jimat." Juragan Gogor melotot. " Banyak cara mas ... banyak cara. Aku kira Kliwon itu mata duitan. Pasti dia ingin kaya. Kita iming - imingi saja dia kekayaan. Serahkan saja pada aku, mas. Tidak akan lama jimat itu pasti akan ada di tangan kita." Juragan Rase mantap meluncurkan kalimatnya sambil membusungkan dadanya. 

bersambung ..................


Senin, 08 April 2013

Cubung Wulung

                                                                                                         edohaput


Ketujuhpuluhempat

Kliwon kedatangan tamu orang besar dan kaya dari kota. Untuk pertama kalinya jalan desa yang licin, banyak berlubang, tidak rata, naik turun dan becek, dilewati mobil. Banyak anak - anak berkerumun melihat mobil bagus yang diparkir di halaman rumah pak Pedut. Warga bertanya - tanya siapa tamu Kliwon yang satu ini. Pasti bukan orang sembarangan. Pasti orang kaya dan orang penting. Orang sekaya juragan Gogor saja belum berani memiliki mobil lantaran jalan desa yang sangat tidak memenuhi syarat. Orang yang nekat berani melewati jalan desa dengan mobil ini pasti orang yang sangat kaya dan berpengaruh. Kalau bukan tidak bakalan datang ke desa ini dengan mengendari mobil. 
Hari menjadi begitu ramai. Warga pada berada di pinggir jalan. Mereka tidak habis pikir, terhadap mobil yang bisa masuk ke desanya. Desa yang terpencil terletak di lereng Gunung. Dengan jalan menuju ke kota yang berkelok - kelok dengan di kiri kanan ada jurang. Sopir mobil itu pasti supir yang sangat terampil. Jika tidak pasti mobil tidak bakalan sampai di halaman rumah Kliwon. 
Kliwon sangat berbangga hati. Dirinya yang dianugerahi bisa menyembuhkan orang dari sakit, ternyata dikenal jauh sampai di kota. Siapa yang menyebar kabar kalau dirinya ini orang pintar dirinya tidak pernah tahu. Yang jelas kini telah datang orang kota meminta jasanya. Kata orang di kota sudah banyak doter dan rumah sakit, kenapa orang kota harus jauh - jauh menempuh perjalanan berbahaya menuju desanya. Apakah orang telah menganggap dirinya telah jauh lebih pinter dari dokter ? Kliwon yang bodo, Kliwon yang tidak berpengalaman kehidupan di kota tidak bisa menerka mengapa orang besar ini datang menemuinya. 
Tamunya yang bercerita tentang sakit ginjal, cuci darah, kemoterapi, dan obat - obatan yang susah diucapkan dan bahasa kedokteran yang tidak dimengerti hanya membuat Kliwon terlongo dan mengangguk - angguk pura - pura mengerti tetapi yang benar tidak mengerti apa - apa. Malah membuat Kliwon menjadi pusing, bingung, dan membuat dirinya amat bodoh dan sangat tidak berpengalaman. Yang dimengerti Kliwon hanya setiap malam Jumat Kliwon mengambil air kedung dengan bumbung, dan air ini diberikan kepada orang yang datang untuk diminum dan orang itu sembuh dari sakitnya. Itu saja. Maka ketika tamunya bercerita banyak tentang sakitnya, Kliwon malah merasa apa yang diomongkan tamunya terasa aneh dan sangat asing ditelinganya. 
Setelah tamunya minum air, mencuci muka dan mengguyurkan air yang diberikannya di kepalanya, tidak lama kemudian tamunya berjingkrak wajahnya berbinar, dan tersenyum - senyum gembira, karena tiba - tiba seluruh badanya terasa segar, dan rasa sakit yang dideritanya tidak lagi dirasakan. Ketika datang tamunya dituntun - tuntun sopirnya, berjalan tertatih, bermuka muram dan pucat, tiba - tiba bisa berdiri tegak dan berjingkrak. " Mas Kliwon, kamu hebat .... kamu hebat ... kamu sakti mas Kliwon ... " Tamu ini berjingkrak dan kemudian dengan tiba - tiba belutut di hadapan Kliwon. " Terima kasih mas Kliwon ... terima kasih ... " Tamu ini memeluk kaki Kliwon. Kliwon hanya bisa kikuk dan bingung. Belum pernah ada tamu yang datang disembuhkan lalu berbuat seperti ini. Tamu ini kemudian menangis  sambil memeluk kaki Kliwon. Kliwon menarik Tubuh tamunya dan meminta duduk kembali di kursi yang diduduki tadi. " Pak saya dak bisa apa - apa, Yang Maha Kuasa lah yang memberi kesembuhan bapak. Jadi berterima kasihlah kepada Yang Maha Kuasa." Jawab Kliwon sambil meminta tamunya kembali duduk.
Saking gembiranya tamu Kliwon yang satu ini, dirinya berjanji akan datang lagi ke desa dan minta dipertemukan dengan Lurah dan tokoh - tokoh desa. Dirinya ingin membantu membangunkan jalan desa. Agar warga mudah untuk mencapai kota. 
Wakini sangat bergembira, karena kedatangan tamu yang satu ini meninggalkan uang yang sangat banyak. Walaupun sudah ditolak - tolak oleh Kliwon tetapi setumpuk uang di amplop coklat tetap ditinggalkan di meja oleh tamunya. " Dah sana simpan saja. Kalu kamu butuh ambil secukupnya. Beli yang perlu - perlu saja. Siapa tahu besuk - besuk kita butuh duit banyak. Dan cepat bapak dikirim makanan, ini dah siang. Kasihan bapak nanti kehausan." Kliwon menyerahkan uang dalam amplop ke tangan Wakini. Wakini berlalu dan menyimpan uang di kamar. 
Wakini bergegas ke sawah. Sudah tiga hari dirinya tidak melayani mertuanya. Wakini juga sudah sangat kangen dengan cara pak Pedut memperlakukannya. Wakini berjalan cepat sambil menenteng tas berisi makanan kiriman buat pak Pedut. 

" Kok terlambat, Ni. Ada apa ?" Sapa pak Pedut. " Tamu yang dari kota itu dak pulang - pulang, pak. Nampaknya tamu dari kota itu sangat gembira sakitnya bisa langsung sembuh. Pak, tamu dari kota itu meninggalkan duit banyak banget. Trus mau datang lagi. Mau dipertemukan sama pak Lurah. Tamu dari kota itu mau bantu membangun jalan, pak. Baik sekali ya pak orang itu." Wakini nerocos cerita. Pak Pedut hanya manggut - manggut sambil menikmati makanan kiriman. " Lho bapak dah buat gubuk ta, pak ?" Mata Wakini tertumbuk pada bangunan Gubuk di seberang sawah dan ada di sudut sawah yang ditumbuhi banyak pohon pisang. Gubuk menjadi sangat terlindung dari pandangan orang. " Kapan pak gubuk itu dibuat ?" Wakini menanya Pak pedut yang lagi mulutnya penuh makanan. Pak Pedut tidak segera menjawab. Didorongnya makanan dengan teh yang masih panas. Pak pedut agak tersedak. " Pelan - pelan pak dak usah tergesa - gesa. Aku sabar kok, pak." Wakini tersenyum melihat pak Pedut menatapnya. " Ini tadi setengah hari aku cuma buat gubuk, Ni. Kalau di gubuk kan tambah enak. Dan kalau ada orang lewat kita dak takut - takut lagi." Pak Pedut menjawab pertanyaan Wakini yang tertunda dijawab. " Dah sana di tengok gubuknya. Kasurnya tebal dan empuk, Ni. Karena jeraminya banyak. Anget lagi." Pak pedut menyulut rokok dan menimatinya. 
Gubuk bertiang kayu turi. Berpagar anyaman daun kelapa. Beratap dari susunan batang pohon jagung. Berkasur jerami dan beralaskan tikar pandan. Wakini merebahkan diri di kasur jerami. Empuk, hangat, dan wanginya aroma jerami membuat Wakini terangsang. Aroma jerami selalu menghiasi ketika dirinya sedang menikmati cumbuan pak Pedut. Wakini melepasi kainnya. Wakini menjadi telanjang. Dirabanya sendiri buah dadanya yang kencang padat. Tangan satunya menelusur ke bawah mengelus perutnya yang rata dengan otot - otot perut yang kencang. Wakini mengagumi tubuhnya sendiri yang mulus dan muda. Wakini tidak pernah menyana kalau dirinya akan kembali muda seperti ketika dirinya berumur belasan tahun. Disentuhnya miliknya sendiri yang ada di antara pangkal pahanya. Sedikit menggunung , padat dan rapat. Pantas saja suaminya semakin tidak bisa menahan. Kemarin - kemarin Kliwon bisa tahan sampai mentimunnya tenggelam di miliknya, ahkir - ahkir ini baru ujungnya yang masuk Kliwon sudah tidak tahan untuk menyemburkan kenikmatannya. Wakini bangga akan tubuhnya yang indah. Sayang suaminya tidak bisa berlama - lama menikmati tubuhnya. Justru malah mertuanyalah yang dengan sangat senang mencumbu kemudaan tubuhnya. 
Pak Pedut menarik pintu gubuk dan mendapati Wakini yang telah telanjang. Pak Pedut yang bertelanjang dada segera memelorotkan celana kolornya dan segera menindih Wakini yang memang sudah menunggu. Wakini yang telah menunggu dengan mengangkang, kangkangannya segera ditempat pinggul pak Pedut. Dan tanpa menunggu lebih lama lagi pak Pedut segera menghunjamkan mentimunnya di milik Wakini yang rindu di sodok kuat - kuat. Dan yang dirasakan Wakini kemudian seluruh tubuhnya dilputi rasa nikmat, turutama payudaranya, lehernya, telinganya, dan terlebih - lebih miliknya yang terus digenjot pak Pedut dengan semangat ketuaannya. 

bersambung ......................